Appetizer NLD: Dua Saran Untuk Arsenal Ketika Dijamu Tottenham Hotspur

Hari Sabtu, 5 Maret 2016, Arsenal akan dijamu Tottenham Hotspur dalam laga yang bertajuk North London Derby (NLD). Selain gengsi kota London, laga ini juga bermakna penting buat kedua klub. Maklum, Arsenal dan Spurs butuh 3 poin untuk terung menguntit Leicester City di puncak klasemen. Lalu, sumbangsih apa yang bisa fans beri untuk Arsenal jelang NLD? Entah bakal didengar atau tidak, menyumbangkan buah pikiran tentu tidak salah.

Rasa sesal tentu masih tersimpan dalam hati selepas Arsenal dibungkam Swansea City. Bagaimana tidak kesal, ketika pemain paling kreatif justru ditarik keluar oleh Arsene  Wenger. Tidak menjadi masalah apabila pemain pengganti mampu memberikan kontribusi positif. Sayang, Danny Welbeck, yang turun menggantikan Joel Campbell, justru tidak mampu berbuat banyak.

Kanal serangan di sisi kanan menjadi buntu dan Arsenal kehilangan momentum masuk ke kotak penalti Swansea. Selepas laga, Wenger menungkapkan bahwa Arsenal kehilangan kreativitas. Kalimat ini tentu seperti menyiram kotoran ke wajah sendiri. Apakah Joel Campbell kelelahan sehingga harus diganti? Bila pemain asal Kosta Rika tersebut memang lelah, kenapa bukan Aaron Ramsey atau Oliver Giroud saja yang ditarik. Praktis, kedua pemain tersebut tidak bermain dengan “kepala” mereka.

Pembaca yang baik, maafkan saya apabila mengawali Appetizer ini dengan serentetan keluh kesah. Saya merasa harus mengeluarkannya supaya rasa sesal tersebut tidak mengendap dan menjadi jerawat di kemudian hari.

Oke, sekarang kita masuk ke pokok bahasan tulisan ini. Sumbangsih yang bisa saya berikan untuk Arsenal adalah 2 saran sederhana. Pertama, soal urgensi, yang mana pasti banyak fans bakal seiya sekata dengan saya. Kedua, soal bagaimana Arsenal tampil di White Hart Lane kandang Spurs.

Saran 1: Soal Urgensi

Ketika melawan Manchester United dan kalah memalukan dari tangan Swansea City, skuat asuhan Arsene Wenger terlihat lesu darah. Selain masalah taktikal yang jelas akut, pemain-pemain Arsenal tidak menunjukkan bahwa mereka tengah bersaing dalam pacuan juara musim ini. Peluang juara jelas masih terbuka. Namun, kenapa pemain-pemain Arsenal seperti tidak menyadarinya?

Karena mental? Ekspektasi yang sangat tinggi? Ayolah, para pemain Arsenal adalah pemain-pemain profesional yang paham dengan tanggung jawab mengenakan jersey dengan emblem meriam. Pemain-pemain terbaik Arsenal dikerjai anak-anak muda United adalah seperti ketika Anda, senior di sebuah sekolah, petentang-petenteng mengeroyok junior, namun akhirnya mendapat malu ketika para junior justru ahli kungfu. Yang bakal Anda dapat hanya rasa malu.

Lalu datang Swansea. Sebelum melawan Swansea, Arsenal mempunyai bekal kabar baik saat Leicester ditahan imbang West Bromwich Albion. Apalagi, ketika laga berjalan, Spurs tengah tertinggal di kandang West Ham dan Manchester City dipecundangi di rumah Liverpool. Sebuah kesempatan emas bagi The Gunners untuk memperpendek jarak dengan Spurs dan Leicester.

Namun lihatlah jalannya laga. Apabila pembaca mempunyai waktu luang dan perut yang tahan rasa mulas, coba tonton ulang laga Arsenal vs Swansea. Perhatikan bagaimana Ramsey yang lesu darah, Giroud yang terlihat linglung dan sudah 10 laga mandul, lihat bagaimana Gabriel Paulista terintimidasi oleh Bafetimbi Gomis, perhatikan bagaimana Mesut Ozil tidak dikawani, simak bagaimana Alexis Sanchez membuang banyak peluang meski akhirnya membuat asis. Praktis, hanya Joel Campbell dan Hector Bellerin yang bermain dengan urgensi nyata.

Lalu Wenger memasukkan Welbeck dan justru mengganti Joel yang tampil mengesankan. Sejenak kemudian, Theo Walcott masuk menggantikan Alexis. Sejurus penggantian tersebut, Arsenal lalu kebobolan untuk kedua kalinya. Susah payah Arsenal mengejar gol. Namun, kehilangan kanal serangan benar-benar menyulitkan Arsenal.

Untuk tahap ini, tak perlu membicarakan taktik. Mari sentil isi kepala dan hati para pemain Arsenal. Urgensi, seperti yang saya tulis di atas, adalah satu hal yang harus selalu dipegang teguh pemain-pemain Arsenal. Jika boleh jujur, ketika United, Chelsea, dan City tidak konsisten, musim 2015/16 adalah momentum terbaik bagi Arsenal untuk juara. Ini bukan suara pesimis, namun hanya usaha untuk realistis.

Lalu bagaimana mewujudkan urgensi? Cara bodohnya apabila melihat “cara” bermain Arsenal adalah dengan berlari lebih banyak, bertarung lebih keras dengan lawan, sembari tetap dengan mempertahankan kepala dingin supaya kreativitas tidak menguap. Terdengar surealis dan artifisial, bukan? Tak mengapa karena seperti inilah keadaan Arsenal saat ini sebelum kita bisa meletakkan cara bermain dalam konteks taktik yang modern.

Sudah jelas ya soal urgensi. Inilah saran saya yang pertama. Bermain dengan, bukan saja untuk menang, namun niat untuk juara. Leicester saja mau untuk juara, lalu kenapa Arsenal tidak?

Saran 2: Bermain dengan 3 gelandang

Mari sedikit bicara soal taktik. Ketika melawan United dan Swansea, salah satu lini yang terus-menerus terekspos adalah lini tengah, lebih spesifik: dua pivot. Ramsey dan Coquelin bukan tipe pivot yang mampu mendistribusikan (mengkreasikan peluang) bola.

Distribusi bola yang menjadi awalan penciptaan peluang berbeda dengan memindahkan bola dengan sarana passing semata. Ketika salah satu antara Ramsey atau Coquelin memegang bola, aliran build-up menjadi tersendat.

Keduanya membutuhkan waktu lebih untuk memutuskan, apakah akan mendistribusikan bola secara vertikal, melakukan delay, memindahkan ruang permainan, mengembalikan bola ke bawah, atau mencoba melakukan penetrasi dengan giringan.

Keduanya bukan seorang “Santi Cazorla” yang diberkahi visi untuk “menciptakan” sesuatu. Ramsey dan Coquelin lebih “sederhana” dalam urusan passing, terlepas dari keduanya asalah gelandang bagus dengan spesifikasi masing-masing.

Lalu, bagaimana cara menutupi kekurangan tersebut? Jika sulit menerapkan taktik tertentu untuk memaksimalkan Ramsey atau Coquelin, salah satu caranya adalah mencegah lawan untuk mengeksploitasi lini tengah dengan memainkan 3 gelandang.

Kenapa harus 3 gelandang? Spurs di bawah asuhan Mauricio Pochettino adalah sebuah tim yang mempunyai sistem pressing yang bagus. Orientasi dan penetrasi Spurs di lini tengah adalah salah satu kekuatan mereka.

Tentu pembaca masih ingat bagaimana Spurs menerapkan jebakan pressing kepada Yaya Toure di area 8 ketika dijamu City beberapa minggu yang lalu. Toure, yang sesaat diberi waktu untuk menggiring bola, tiba-tiba disergap pemain Spurs. Serangan balik Spurs berbuah gol dari Eriksen.

Inilah salah satu “sistem” yang membahayakan Arsenal, terkhusus untuk Ramsey dan Coquelin. Terekspos di area tengah akan membuat dua bek tengah menderita. Belum lagi, Arsenal begitu kesusahan untuk bermain rapat. Gol Ander Herrera adalah contoh bagus untuk menggambarkan bagaimana double pivot Arsenal adalah bencana.

Gol Barcelona pun tidak lepas dari double pivot Arsenal yang ikut naik, namun lalai dengan ruang di belakang mereka. Terlebih, pemain lain, baik bek sayap atau bek tengah tidak aware dengan ruang antar-lini yang terbuka.

Oleh sebab itu, maka bermain dengan 3 gelandang adalah pilihan yang wajar. Sudah waktunya juga bagi Wenger untuk memberi kepercayaan lebih kepada Mohamed Elneny dan Joel Campbell. Begini kira-kira Arsenal bermain menggunakan 3 gelandang:

1

Bentuk seperti ini pernah terlihat ketika Arsenal melawan United di pertemuan pertama. Ramsey tidak lagi “bertindak”  seperti gelandang tengah, namun wide-midfielder yang di beberapa kesempatan akan bergerak ke halfspace kanan atau bahkan menyediakan width. Di beberapa kesempatan, memaksimalkan kemampuannya untuk coming from behind, Ramsey akan terlibat dalam seragan.

Dua pemain lebih di lini tengah (Elneny-Coquelin) setidaknya akan memberi rasa aman ketika Ramsey naik. Bayangkan apabila Arsenal bermain dengan double pivot, dengan salah satunya tertarik ke atas atau ke samping.

Bentuk tiga gelandang juga akan “memaksa” Spurs bermain ke sisi lapangan. Spurs adalah salah satu klub yang catatan crossing-nya tidak begitu baik. Tercatat, Spurs adalah tim terburuk ke-16 untuk urusan memaksimalkan umpan silang. Namun, Spurs adalah salah satu tim dengan catatan tembakan ke gawang terbanyak dengan rata-rata 7,8 per laga. Artinya, penetrasi mereka di zona 5 atau lini tengah secara keseluruhan begitu baik.

Di sisi lain, Harry Kane, Dele Alli, dan Christian Eriksen adalah pemain-pemain yang mahir menarik pemain lawan keluar dari posisinya. Ketiganya juga fasih bertukar tempat untuk memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan pemain lawan, terutama bek tengah dan gelandang sentral.

Eriksen sendiri bukan winger, meski berada di sisi lapangan. Eriksen akan banyak bergerak ke area sentral atau drop deep untuk menambah jumlah pemain di lapangan tengah. Selain Eriksen dan Alli, Spurs juga terbantu dengan Eric Dier yang cukup baik mensirkulasikan bola. Plus, Toby Alderweireld, merupakan ball-playing defender yang baik.

Untuk lebih memahami pressing, cara bermain, dan bagaimana Spurs mengeksploitasi lini tengah, silakan baca analisisnya dari spielverlagerung.com berikut:

“Tottenham Hotspur: Positional Play and Pressing Analysis”

  • Tanya: Apakah bermain 3 gelandang adalah cara ideal bagi Arsenal mengalahkan Spurs?

Jawabannya adalah tidak. Bermain menggunakan tiga gelandang mempunyai kesulitannya sendiri. Namun setidaknya, menambah jumlah pemain di lapangan tengah adalah cara paling sederhana bagi Arsenal yang belum konsisten menerapkan pressing selama 90 menit.

Arsenal pernah bermain baik dengan 4-4-2 narrow, asal mampu menerapkannya selama 90 menit dan efektif dengan counter. Ketika melawan Barcelona, keinginan untuk menang terlalu kuat menguasai sehingga melepas two banks of four yang disiplin dan membuat dua pivot keluar dari posisinya.

Oleh sebab itu, kunci yang paling utama adalah menerapkan taktik secara konsisten selama 90 menit. Pemain harus patuh dengan sistem yang sudah ditetapkan. Dan, yang paling penting, penerapan taktik tersebut dilandasi urgensi untuk menjadi juara.

Itulah dua saran untuk Arsenal saat dijamu Spurs.

#COYG

Comments

2 thoughts on “Appetizer NLD: Dua Saran Untuk Arsenal Ketika Dijamu Tottenham Hotspur”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *