Main Course NLD: Oooohh, Arsenal We Love You!

Tiga gelandang! Setelah double pivot Arsenal yang diisi Francis Coquelin dan Aaron Ramsey dibuat menderita dalam 2 pertandingan terakhir, akhirnya Arsene Wenger membuat perubahan penting. Dijamu Tottenham Hotspur dalam laga North London Derby (NLD), Arsenal menurunkan Coquelin, Ramsey, dan Mohamed Elneny di lapangan tengah. Meski berakhir dengan skor 2-2, Arsenal menunjukkan bahwa mereka layak dicintai.

Di artikel “Appetizer NDL: Dua Saran Untuk Arsenal Ketika Dijamu Tottenham Hotspur”, saya menegaskan pentingnya melandasi penampilan Arsenal dengan urgensi yang nyata. Kenapa hal ini penting? Ketika kaki-kaki terasa lelah dan taktik lesap dari kepala, maka hanya niat untuk tidak kalah yang bisa dijadikan landasan. Urgensi, bekal sikap yang sudah seharusnya dimiliki tim yang berjuang menjadi juara.

Saran saya kedua adalah bermain dengan tiga gelandang. Alasannya saya sederhana, double pivot Arsenal sering terkekspos ketika Ramsey tertarik keluar dari posisinya. Setangguh apa pun Coquelin, dirinya tidak bisa membelah diri macam amoeba dan berada di banyak ruang di satu waktu. Maka, “cara  termudah” bagi Arsenal adalah bermain dengan sebanyak mungkin pemain di lapangan tengah.

Ramsey Sebagai Wide-Midfielder

Profil ini cocok untuk meladeni Spurs yang mempunyai orientasi serangan lewat lapangan tengah. Meskipun tetap susah payah meladeni pressing Spurs, setidaknya Arsenal mampu mencegah gelandang-gelandang Spurs merangsek lewat lapangan tengah. Wenger sendiri akhirnya memberi kesempatan bagi Elneny untuk turun sejak awal laga. Bersama Coquelin dan Ramsey, gelandang asal Mesir tersebut menjadi tembok bagi Arsenal di lapangan tengah.

21

Di atas kertas, Arsenal bermain dengan sistem 4-2-3-1, namun seiring jalannya laga, Ramsey akan banyak drop deep ke bawah membantuk segitiga di depan bek bersama Coquelin dan Elneny. Saat Arsenal masuk dalam transisi serangan, Ramsey menjadi pemain pertama dari bentuk segitiga tersebut yang ikut naik. Lari Ramsey menyesuaikan dengan progresi serangan, terkadang men-delay beberapa detik untuk memastikan dirinya selalu berada di “ruang antar-lini”. Di beberapa kesempatan, Ramsey justru menjadi pemain pertama yang berlari naik dan menyediakan diri sebagai receiver bola secara vertikal.

Apa tujuan dari ciri Ramsey tersebut?

  • Ketika men-delay lari, Ramsey memastikan dirinya tidak benar-benar diikuti pemain Spurs, baik Eric Dier atau Dembele. Dengan berlari lebih lambat 1 atau 2 detik, Ramsey akan mendapatkan pandangan sekilas untuk menentukan ruang mana yang akan ia masuki. Percayalah, pemindaian ruang Ramsey sangat baik. Kemampuannya untuk coming from behind menjadi maksimal ketika bermain “lebih dekat” dengan kotak penalti. Pembaca masih ingat dengan peluang terakhir Ramsey yang berhasil dihentikan Kevin Wimmer? Itulah cara bermain paling ideal bagi Ramsey. Ketika Ramsey berhasil “menyelinap” masuk ke kotak penalti, goal threat-nya yang tinggi menjadi senjata yang sulit dibaca lawan.

22

Grafis di atas merupakan gambaran sederhana ketika Ramsey memanfaatkan late run dengan baik. Antara Wimmer dan Toby Alderweireld “mengira” Alexis akan memberikan bola kepada Oliver Giroud yang bergerak dari posisi offside. Ramsey membaca situasi dengan baik dan memanfaatkan kelengahan kedua bek dengan baik. Meski sedikit terlambat, Wimmer mampu mengejar Ramsey yang masuk ke kotak penalti.

  • Inisiatif untuk berlari lebih cepat. Ketika Ramsey memutuskan menjadi receiver bola secara vertikal, baik striker atau gelandang serang yang lain akan mendapatkan ruang dari bek yang ditarik Ramsey. Penciptaan ruang ini penting sebagai “kanal” bagi, misalnya Mesut Ozil atau Alexis Sanchez, mendapatkan ruang ideal di depan kotak penalti. Gol yang dicetak Ramsey adalah bentuk inisiatifnya untuk masuk ke kotak penalti mendahului Ozil dan menarik bek lawan. Hasilnya, Danny Welbeck mendapatkan sesaat waktu untuk melihat arah lari Bellerin. Apabila Ramsey tidak berlari masuk dan menarik bek lawan, Walker dan Lamela akan memiliki waktu untuk menyiapkan pressing bagi Welbeck di sisi kanan.

Kartu merah untuk Coquelin sedikit mengubah cara bermain Arsenal. Apalagi, setelah Elneny ditarik keluar, praktis Ramsey kembali menjadi gelandang sentral bersama Flamini. Pembaca tentu memperhatikan bagaimana Ramsey beberapa kali tampak ragu untuk melepas bola ketika berusaha menjadi distributor.

Catatan Terkait Welbeck

Setelah hanya turun bak cameo ketika Arsenal dikalahkan Swansea, Welbeck menunjukkan bahwa dirinya adalah tipe striker yang dibutuhkan saat ini. Tidak adanya deep-playmaker yang ideal membuat Arsenal kesulitan membangun serangan dari bawah. Ketika menghadapi tim-tim dengan kemampuan pressing sangat baik, deep-playmaker sangat dibutuhkan. Ia mampu membawa tim keluar dari pressing lawan dan menjaga penguasaan bola.

Maka, ketika dipaksa untuk lebih bertahan, keberadaan Welbeck menjadi penting. Energi dan kemampuannya untuk menekan ball-playing defender atau pivot lawan adalah bentuk pressing gelombang pertama lawan. Sejak bermain untuk Manchester United, striker asal Inggris tersebut sudah fasih dengan tugas ini. Kemampuan fisiknya juga cocok untuk berduel ketika berhasil menempel bek lawan yang sedang membawa bola.

Spurs sendiri membangun serangan dari bawah berkat keberadaan Alderwereld dan Dier yang nyaman dengan bola. Selain mereka berdua, Dembele juga mampu membawa Spurs keluar dari pressing lawan dari posisinya sebagi pivot bersama Dier. Oleh sebab itu, membuat Spurs tidak nyaman berprogresi dari bawah dengan menugaskan Welbeck dan Alexis untuk menekan sejak awal adalah pilihan penting. Hal ini juga menunjukkan bahwa Arsene Wenger menyiapkan tim dengan benar.

Sekali lagi, jika HARUS bermain lebih bertahan, profil Welbeck akan cocok sebagai pemantik pressing gelombang pertama. Keberadaanya juga ideal bagi Alexis yang lebih banyak bergerak ke area sentral ketimbang berada di halfspace kiri atau melebar. Sebagai catatan, ketika bermain untuk Chile, Alexis lebih bertindak sebagai #9 ketimbang penyerang yang melebar. Hal ini sama seperti ketika bermain untuk Barcelona. Oleh sebab itu, tipe defensive forward seperti Welbeck ini akan menjadi elemen penting dalam sistem pressing Arsenal. Tugas Arsenal hanya perlu menjaganya berada dalam kondisi terbaik dan bebas dari cedera.

Titik Balik?

Bermain di rumah Spurs, yang bagian pinggir lapangannya seperti lapangan tarkam, bukan urusan mudah. Bermain dengan 10 pemain lalu berhasil menyamakan kedudukan tentu layak mendapatkan pujian. Entah kalah, menang, atau imbang, yang terpenting adalah menunjukkan bahwa Arsenal punya niat bertarung.

Arsenal membutuhkan “amarah” dan “kegelisahan” setelah rentetan hasil buruk. Tengok bagaimana Gabriel berteriak memperingatkan rekan-rekannya untuk bertarung lebih keras. Ingat dengan amarah Mertesacker ketika lini depan membuang situasi emas untuk mencetak gol? Tonton lagi bagaimana Alexis gusar ketika rekan-rekannya gagal mengkreasikan peluang. Lalu nikmati gairah yang tumpah ruah ketika Alexis berhasil menyamakan kedudukan.

Satu yang pasti, kerja keras adalah ibadah. Kerja keras tidak akan pernah mengkhianatimu. Kerja keras mudah untuk dinarasikan, namun sulit untuk diejawantahkan. Apakah hasil imbang ini bisa menjadi titik balik bagi Arsenal? Meski peluang juara sangat bergantung kepada hasil pertandingan tim lain, paling tidak, Arsenal jelas punya niat untuk tidak kalah. Memang, mengukirnya di atas lapangan adalah masalah lain.

Pada akhirnya, semuanya bersumbu kepada frasa ajaib yang bernama “kerja keras”. Ketika peluh dan gairah untuk bahagia terlukis dengan manis di wajah Arsenal, sudah sewajarnya kita Gooners Sedunia untuk mengkhidmati kalimat “Ooohh, Arsenal we love you!”

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *