Dessert: Bonjour, Francis Coquelin, Terima Kasih Untuk Hasil Imbangnya

Derby London Utara yang baru selesai Sabtu (5/3) lalu adalah salah satu pertandingan yang cukup patut untuk disesali Arsenal karena gagal dimenangkan. Kalau boleh mengeluhkan di sini, ada beberapa pertandingan yang seharusnya dimenangkan Arsenal kalau saja fokus tidak turun, sehingga kebodohan di atas lapangan bisa diminimalisir. Salah satunya, mungkin, ketika tandang di Anfield melawan Liverpool dengan hasil akhir 3-3, saat Arsenal kecolongan oleh gol buzzer beater Joe Allen.

***

Konon, hidup ini selalu tentang penyesalan. Mungkin itu pula yang tampak saat Per Mertesacker gagal menguasai bola dan Harry Kane merangsek ke sisi kanan pertahanan Arsenal yang sudah ditinggal Hector Bellerin, terjadilah kebodohan itu yang patut disesali di kemudian hari.

Francis Coquelin yang sudah mengantongi kartu kuning di babak pertama karena memegang bola ketika jatuh, melancarkan tekel medioker yang sayangnya, mengubah jalannya pertandingan.

Nikmati sajian pembuka: “Appetizer NLD: Dua Saran Untuk Arsenal Ketika Dijamu Tottenham Hotspur”

Ini pelajaran dasar yang harus dipahami, tidak hanya pemain Arsenal, tapi rasa-rasanya juga semua orang yang memainkan sepak bola sebagai mata pencaharian utama. Hasil dalam sebuah pertandingan mungkin bisa dijadikan acuan, tapi proses, tetap yang paling menentukan hasil akhir itu. Dan dengan menghargai proses tersebut kita semua belajar untuk berkembang dengan lebih baik.

Pertandingan kemarin adalah satu-satunya titik di mana saya akhirnya benar-benar menggunakan kata “bodoh” untuk menunjukkan perasaan kesal dan kecewa sebagai akibat dari tindakan Coquelin. Dalam konferensi pers Arsene Wenger seusai laga, ia mengatakan sudah memberikan peringatan kepada Coquelin untuk berhati-hati di babak kedua. Itu wajar, selain sudah mengantongi kartu, Arsenal juga tengah unggul. Harusnya santai saja, tak perlu menggunakan tekel bodoh untuk sebuah pelanggaran yang kelewat tolol.

Ini masalah urgensi dan bagaimana seorang pemain melihat kebutuhannya sebagai penunjang sebuah sistem dalam tim. Tindakan tolol Coquelin mengubah sistem permainan Wenger yang sepanjang babak pertama sudah sangat rapi dan terstruktur. Coquelin juga mampu bersanding dengan Mohamed Elneny untuk menjalankan peran sebagai holding midfielder dan seorang ball recycler yang baik, utamanya, mengingat kekuatan positional play para gelandang Tottenham yang sangat brilian sepanjang musim ini.

Semua berjalan baik dan seimbang. Arsenal memang tertekan sepanjang babak pertama, tapi tidak sampai membuat panik dan semua dalam kontrol, sampai gol Aaron Ramsey terjadi dan (harusnya) mengubah peruntungan Arsenal di sisa 45 menit di babak kedua. Dan sekali lagi, mengingat-ingat bagaimana Arsenal berjuang mati-matian di babak pertama membuat saya benar-benar mengutuk aksi tolol Coquelin di babak kedua itu.

Tekel ceroboh Coquelin dan kartu merah yang didapatnya benar-benar merusak suasana hati penonton yang harusnya bisa terjaga sampai akhir pertandingan. Kalau Anda bertanya kenapa kemudian harus menyalahkan Coquelin, jawabnya sederhana, “Anda bisa bermain sempurna sepanjang 89 menit pertandingan, lalu pada menit 90 Anda membuat gol bunuh diri yang memberi kekalahan bagi tim, dan itu yang membuat Anda menjadi pecundang.

Dan siapa yang menjadi pecundang, akan menjadi kambing hitam. Sepak bola itu selalu brengsek dan bajingan. Andres Escobar bahkan ditembak mati ketika mencetak gol bunuh diri di Piala Dunia 1994 Amerika Serikat.

Hal ini yang harus disematkan di pikiran banyak pemain Arsenal. Kecerobohan terjadi karena isi kepala pemain Arsenal kerap tidak sinkron dengan apa yang diinginkan Wenger. Dengan bersikap ceroboh, taktik yang diinginkan Wenger untuk dijalankan pun menjadi macet.

Ketika taktik tidak jalan, sistem jadi down dan Arsenal menjadi bulan-bulanan lawan. Kekalahan akan menjadi sebuah hal yang tidak bisa ditolak, hingga kemudian semua menghujat Arsene Wenger. Itu yang terjadi saat “tamasya kecil” di Manchester pekan lalu.

Itulah lingkaran setan yang menyebalkan. Pelatih memang sudah selayaknya disalahkan karena sebuah kekalahan dan prestasi yang kering selama puluhan tahun, tapi melihat satu hal dengan kaca mata yang sempit hanya membuat Anda bebal dan banal.

Itulah kenapa slogan Arsenal adalah Victory Through Harmony, harus ada sinkronasi yang pas agar semua elemen dalam klub saling tahu urgensi masing-masing. Dan kemarin, Francis Coquelin benar-benar merusak segalanya. Pertandingan itu seharusnya dimenangkan Arsenal, TAPI……..

***

Laga melawan Tottenham kemarin, secara keseluruhan begitu menyenangkan, sepanjang babak pertama utamanya. Formasi tiga gelandang Arsenal di tengah, spartannya Danny Welbeck di posisi penyerang, hingga lini belakang yang cukup solid, apalagi, bek kiri adalah Kieran Gibbs yang kerap angin-anginan dan tampil buruk, kali ini mampu tampil solid dan disiplin.

Secara taktikal, kalau boleh jujur dan sedikit sombong, Wenger mampu unggul atas Mauricio Pochettino. Meletakkan Ramsey di posisi sedikit lebih ke depan adalah cara yang brilian untuk mengatasi tekanan dari para gelandang Tottenham yang memang spartan dan tak ragu bermain keras.

Ramsey memang idealnya berperan sebagai pemain yang ikut naik dan terlibat dalam proses serangan Arsenal di sepertiga akhir lapangan musuh. Ini krusial karena selain stamina Ramsey yang baik, ia punya insting gol yang baik dan itu akan sangat berguna ketika Ramsey fokus berada di daerah pertahanan lawan dan tidak harus membagi fokus untuk bertahan di bagian dalam bersama Coquelin atau Elneny.

Bahkan, sedikit opini pribadi saya, Aaron Ramsey mampu juga untuk dimanfaatkan sebagai raumdeuter, seperti layaknya Thomas Mueller di Bayern Muenchen dan timnas Jerman. Itupun, kalau Arsene Wenger mau.

Walau sangat menyesali tiga poin yang seharusnya bisa dibawa pulang ke rumah, ada banyak hal positif yang bisa dicermati, semisal potensi tentang peran Welbeck sebagai penyerang yang pas digunakan untuk menekan lawan dan ketika Arsenal berfokus untuk menyerang menggunakan serangan balik. Ini krusial, mengingat Arsenal masih akan bertandang ke Barcelona nanti.

Menu Utama North London Derby: “Main Course NLD: Oooohh, Arsenal We Love You!”

Hal positif lainnya adalah penampilan David Ospina yang membuat sembilan saves di pertandingan itu. Deputi Petr Cech ini tampil luar biasa dan reflek tangan kanannya saat menggagalkan peluang Erik Lamela di babak pertama adalah nikmat tersendiri untuk ditonton.

Pujian paling penting, tentu untuk Aaron Ramsey. Sekian pekan tampil bak kotoran bau yang menjijikkan, Ramsey bermain sangat brilian kemarin. Utamanya, mengingat ia berada di posisi yang mampu mengoptimalkan kemampuannya dengan sangat baik.

***

Intinya adalah, Arsenal menunjukkan lagi semangat dan urgensi yang sempat hilang beberapa pekan lalu, tugasnya kemudian, menemukan kembali ritme permainan dan tampil konsisten di sisa laga musim ini, baik di Liga, Piala FA atau Liga Champions.

Dan satu lagi, no more stupid things need to do when you were chasing for title. Karena kalau tetap bermain bodoh dan tidak paham urgensi, Arsenal hanya sama levelnya dengan Aston Villa.

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *