Menanti Musim Panen Hale End Academy

Hale End Academy, adalah pohon buah ranum milik Arsenal yang siap dipanen. Buah yang dihasilkan sehat-sehat dan menggemaskan. Siapa saja dari “buah-buah” tersebut yang siap dipetik dan dikagumi?

Senjakala Arsene Wenger adalah sebuah dua sisi mata uang. Satu sisi, kita harus sepakati bahwa, mungkin, di beberapa titik dan poin tertentu, pendekatan Wenger dalam sebuah pertandingan memiliki efek yang buruk bagi tim. Sebelum kemenangan atas Everton Sabtu (19/3) akhir pekan lalu, propaganda untuk melengserkan Wenger mungkin setara dengan upaya ribuan mahasiswa menuntut turunnya Orde Baru pada 1998 lalu. Sangat masif dan sistematis.

Sayangnya, slogan Arsene Knows Best bukan isapan jempol belaka. Satu sisi lainnya dari senjakala Arsene Wenger adalah menanti masa panen beberapa pemain dari akademi klub yang mulai siap dinikmati hasilnya, setidaknya, dalam beberapa musim mendatang. Hale End Academy, akademi milik Arsenal adalah mahakarya Arsene Wenger yang paling memberi sumbangsih untuk keberlangsungan suplai pemain berbakat di tim utama. Minimal, awal musim depan pemain-pemain muda tersebut bisa perlahan dilibatkan ke tim utama.

Musim ini, kita menikmati hasilnya dengan mulai menonjolnya Alex Iwobi. Musim lalu, Hector Bellerin melesat kariernya bak meteor. Dua-duanya adalah alumnus akademi Arsenal. Salah satu yang dimanfaatkan Wenger untuk memasok kebutuhan pemain bagi tim utama. Oh jelas, Arsenal punya dana di brankas, sangat banyak malah untuk membeli dua Gareth Bale sekaligus. Tapi tenang, Arsene (still) knows best.

Musim ini, di tengah gejolak penampilan Arsenal yang seperti telor busuk, kerapkali saya menghabiskan malam dengan menikmati penampilan pemain-pemain dari akademi. Hale End sudah membuktikan kualitasnya. Cesc Fabregas, Jack Wilshere, lalu Hector Bellerin adalah jaminan mutu kenapa kita harus kurangi celotehan memekakkan telinga perihal perilaku bebal Wenger di bursa transfer.

Salah satu kompetisi di usia dini yang diikuti pemain akademi Arsenal adalah FA Youth Cup. Musim ini, Arsenal sudah berhasil lolos ke babak semifinal dan baru menyelesaikan pertandingan leg pertama di kandang Manchester City dengan kekalahan 2-1. Juara atau tidak juara nantinya, ada beberapa nama yang mempunyai kualitas teknik dan pemahaman taktikal yang baik. Steve Gatting, manajer tim junior juga beberapa kali menampilkan susunan pemain yang berbeda dan menunjukkan beberapa hal menarik, bahwa beberapa pemain memiliki kemampuan versatility.

Berikut daftarnya, tapi demi kenyamanan bersama, sebaiknya kita sepakati Alex Iwobi bukan sebagai pemain akademi, tapi sudah naik pangkat sebagai tim utama. Jadi, daftarnya seperti ini:

Jeff Reine-Adelaide

Jeff-Reine Adelaide (Sky Sports)

Sangat layak pemuda Perancis ini ada di daftar teratas untuk “dipanen” di tim utama. Penampilan impresifnya di Emirates Cup awal musim ini, dilanjutkan dengan performa konsisten bersama tim junior arahan Steve Gatting.

Adelaide memiliki kontrol bola mumpuni. Ia paham taktik dengan baik, kualitas umpan dan caranya membawa bola juga menarik. Beberapa kali, ia menusuk dari sisi kanan, kiri, bahkan tengah. Di tim junior, ia bak Mesut Ozil. Gatting memberinya free role di sepertiga akhir lini serang Arsenal. Kalau dikomparasikan dengan pemain Arsenal di masa lampau, ia mirip betul dengan gaya Robert Pires. Flamboyan, olah bola mumpuni, dan memiliki kualitas umpan di sepertiga akhir yang bagus. Footwork-nya juga bagus, walau ada beberapa kekurangan elementer seperti pengambilan keputusan yang cenderung lambat, Adelaide jelas kandidat utama untuk naik dengan penuh ke tim utama musim depan.

Ismael Bennacer

Ismael Bennacer (Mirror)

The one that could be our own Riyad Mahrez. Dengan arahan yang tepat, mental yang bertumbuh dengan baik, Bennacer bisa menjadi permata penting bagi lini tengah Arsenal. Ia salah satu gelandang dengan visi permainan yang sangat amat bagus sekali. Walau terdengar berlebihan, Bennacer ini deep builder terbaik di tim junior Arsenal.

Ia seorang Perancis, dengan darah Aljazair dan Maroko, familiar betul ya dengan latar belakang Riyad Mahrez? Sama-sama berkaki kidal, bedanya, Bennacer adalah seorang gelandang tengah, bukan gelandang sayap. Kualitas umpannya sangat baik. Punya umpan panjang yang cukup akurat. Dalam laga perempat final FA Youth Cup melawan Liverpool, Bennacer melepas tendangan bebas cantik yang sayangnya, membentur mistar gawang.

Kualitas bola matinya bagus. Ia pengatur tempo permainan yang baik. Walau cukup kurang ajar membandingkannya dengan Andrea Pirlo, tapi gaya mainnya memang mirip Pirlo. Dengan gerak badan dan kaki yang lebih stylish. Bennacer bisa bermain di semua posisi lini tengah, entah sebagai deep-lying playmaker atau seorang pengatur serangan yang bermain lebih ke depan.

Christopher Willock

Christopher Willock (Guardian)

A local boy. Lahir di London, tumbuh besar mengidolai Arsenal dan sudah di akademi sejak usia 8 tahun. Willock adalah tipikal pemain seperti Danny Welbeck. Mampu bermain sebagai penyerang tengah, juga sama baiknya ketika menyisir sebagai pemain sayap. Salah satu bintang utama di tim U-18 Inggris.

Kelemahan terbesar Willock adalah beberapa kali ia tidak klinis ketika mendapat peluang di depan gawang. Kualitas penyelesaian akhirnya buruk, walau ia cukup tricky dan memiliki kecepatan yang cukup baik.

Salah satu favorit saya ketika menonton tim junior Arsenal adalah melihat Willock mengisi jatah tiga pemain di posisi gelandang serang Arsenal bersama Jeff Reine-Adelaide dan Donyell Malen. Mereka bertiga ini kombinasi dari kecepatan, kecepatan, dan kecepatan. Utamanya ketika Adelaide mengaktifkan mode free role-nya, lini serang Arsenal junior begitu mengesankan. Sangat cair dan menyenangkan untuk ditonton.

Ben Sheaf

Ben Sheaf (Mirror)

Salah satu pemain versatile di tim junior Arsenal. Bermain sama baiknya sebagai gelandang tengah atau seorang bek sayap. Di laga melawan Liverpool di FA Youth Cup, Sheaf adalah salah satu pemain yang sangat menonjol. Sebagai seorang yang murni berposisi gelandang, Sheaf bermain sangat bagus di pertandingan itu justru sebagai bek kanan.

Di laga melawan Manchester City kemudian, ia menempati posisi bek kiri. Dan di beberapa pertandingan liga di U-21, Sheaf rutin menempati posisi double pivot bersama Ismael Bennacer. Kontrol bolanya cukup baik. Punya kapasitas tendangan jarak jauh yang lumayan. Tipe bermainnya seperti Jack Wilshere. Saya juga heran sebenarnya, banyak pemain muda Arsenal yang gaya mainnya flamboyan dan bukan bertipe enforcer atau petarung. Tapi apapun itu, Sheaf salah satu favorit saya untuk lebih banyak dilibatkan di tim utama musim depan.

Krystian Bielik

Krystian Bielik (Daily Mail)

Melihat karier bocah Polandia ini, saya teringat trayek karier Javier Mascherano. Ia mengawali karier sebagai seorang gelandang bertahan yang tangguh, walau kemudian Pep Guardiola mengubahnya menjadi salah satu bek tengah terbaik di dunia.

Bielik datang dari Legia Warsawa dengan status gelandang bertahan muda yang cukup mumpuni. Pembacaan bolanya cukup baik. Paham cara bertahan dengan baik, karena memang sekilas dilihat, ia mampu membaca pertandingan dengan cukup mumpuni. Pemahaman taktiknya juga bagus. Beberapa poin penting untuk mewajarkan kenapa ia adalah kapten di tim U-21.

Konon, atas permintaan khusus Arsene Wenger, Bielik rutin dimainkan Gatting sebagai bek tengah bersama Marc Bola. Ia tinggi dan kokoh, meski tidak terlalu cepat. Tapi itu tadi, dia memiliki pemahaman taktik yang bagus. Piawai membaca gerakan bola. Mirip betul dengan sosok Per Mertesacker di tim utama. Satu kelemahan mendasarnya adalah karena gaya merebut bolanya adalah dengan closing down lawan, ia tidak memiliki tekel yang mumpuni.

Donyell Malen

Donyell Malen (Arsenal.com)

Kalau ada pemain akademi di Hale End yang layak dicemburui, ia pastilah Donyell Malen. Datang dari akademi Ajax yang tersohor, Malen adalah representasi dari sepak bola menyerang Belanda yang cepat dan menyenangkan untuk ditonton.

Lalu kenapa Malen harus dicemburui? Bayangkan, selama di Ajax, ia dibimbing oleh Dennis Bergkamp di tim junior. Berpindah ke Arsenal, ia sempat dilatih langsung oleh Thierry Henry. Lucky bastard. Dengan bimbingan yang tepat dan pengenalan lebih intens untuk latihan dengan tim utama, Malen bisa menjadi hasil panen yang menarik.

Saya membayangkan ia melapis Alexis Sanchez. Membentuk trisula gelandang serang di tim utama  bersama Mesut Ozil dan Alex Iwobi. Representasi dari sepak bola menyerang dan cepat.

***

Di balik merosotnya Arsenal jelang akhir musim, ada beberapa hal yang patut disyukuri, salah satunya dengan prospek pemain-pemain akademi yang siap panen dan naik ke tim utama musim depan. Selain nama-nama di atas, ada beberapa pemain pinjaman yang kembali musim depan dan bisa dimanfaatkan sebagai suplai pemain di tim utama, semisal Chuba Akpom yang berlaga di Hull City, Gedion Zelalem yang bermain di Glasgow Rangers, atau Wellington Silva yang saat ini dipinjamkan ke Bolton.

Sekadar trivia, Francis Coquelin, si petarung kita yang mekar musim lalu, juga produk akademi Arsenal. Bersama Carl Jenkinson yang pulang dari masa peminjaman di London Timur bersama West Ham akhir Januari lalu.

Intinya adalah, dua atau tiga tahun mendatang, Arsenal memiliki stok pemain muda potensial yang tidak kalah dengan mekarnya Jesse Lingard atau Marcus Rashford di Manchester United. Tenang, tak perlu iri. Rumput tetangga tidak pernah lebih bagus, karena Hale End adalah masterpiece terbaik yang dibuat dan akan diwariskan nantinya dengan manis oleh Arsene Wenger.

So, here we are, still #WengerOut, eh?

#COYG

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *