Membangun Semesta Mesut Ozil

Awal Februari 2018. Kabar itu bahkan tedengar lebih merdu ketimbang semua berita kedatangan pemain baru. Mesut Ozil, akhirnya membubuhkan tanda tangan di atas kontrak baru. pemain asal Jerman ini akan bermain untuk Arsenal hingga tahun 2021. Kini, saatnya membangun semesta Arsenal dengan Ozil sebagai pusatnya.

Sebelum melepas Alexis Sanchez, Arsenal seperti punya dua matahari kembar. Alexis dan Ozil. Dua pusat semesta. Dua pemain yang menjadi dinamo, sekaligus eksekutor untuk semua progres serangan. Ketika salah satunya absen, pemain satunya tak bermain sebebas biasanya. Terlihat seperti ada beban ketika harus memikul beban bernama lini serang Arsenal.

Keduanya saling melengkapi. Saling membutuhkan.

Namun, seiring waktu, Alexis Sanchez menunjukkan keengganan untuk bertahan lebih lama bersama Arsenal. Mantan pemain Udinese tersebut ingin selalu mencicipi tantangan baru dengan dalih perkembangan. Sebuah sikap yang selalu ia tunjukkan, terutama sangat terlihat, ketika memperkuat Barcelona.

Arsenal melakukan semua yang mereka bisa untuk menjaga “dua semesta” ini tetap bisa bermain bersama. Sayang, semua yang bisa dilakukan The Gunners itu belum cukup untuk menahan Alexis. Januari 2018 yang lalu, pada akhirnya, “dua semesta” Arsenal harus berpisah. Alexis menyeberang ke jalan kegelapan. Bergabung dengan Setan. Merah.

Pada akhirnya hanya tunggal. Hanya ia, Mesut Ozil yang kini menjadi sentral kehidupan Arsenal.

Arsenal memang menambah dua pemain baru untuk lini serang di bulan Januari. Mereka adalah Henrikh Mkhitaryan yang diselamatkan dari jalan kegelapan dan Pierre-Emerick Aubameyang datang dari Borussia Dortmund. Dua nama dengan kaliber yang nisbi besar bagi Arsenal. Namun, tetap saja, keduanya bermain dengan konsep “sinkronisasi” dengan Ozil.

Memanen mental dari sosok Ozil

Keberadaan pemain berusia 29 tahun ini memang menjadi sangat penting bagi Arsenal, bahkan ketika Alexis masih ada. Soal kualitas teknik sudah tidak perlu dibahas. Yang paling dibutuhkan Arsenal dari sosok pemain bernomor punggung 11 ini adalah menyerap sebanyak mungkin mental pemenang. Terutama bagi para pemain muda dan para debutan.

Arsenal harus bisa membangun situasi di mana kemampuan Ozil bisa selalu dimaksimalkan. Apalagi, sang playmaker sendiri tidak menutup diri dengan perkembangan. Mantan pemain Werder Bremen ini beradaptasi dengan ide Arsene Wenger yang ingin memasukkan nama Jack Wilshere ke dalam skuat.

Ozil dengan senang hati bermain lebih dalam. Bahkan, di beberapa kesempatan, ia menjadi gelandang dengan posisi paling dalam dibandingkan Granit Xhaka sekalipun. Pengorbanan ia lakukan. Hasil maksimal, Ozil persembahkan. Sikap inilah yang perlu dicontoh oleh pemain lain. Fleksibel dalam taktik, berdedikasi tinggi ketika mengeksekusinya.

Arsenal membutuhkan segala mental pemenang dan determinasi dari Ozil. Terutama untuk musim depan, di mana bisa jadi, Wenger tak lagi menukangi Arsenal. Masa transisi adalah masa yang berbahaya. Keberadaan pemain yang bisa dijadikan panutan tentu sungguh menguntungkan.

Bagaimana apabila Wenger tetap bertahan? Ya tetap sama. Arsenal membutuhkan seseorang yang bisa memimpin. Dan soal kepemimpinan ini tak selalu berkaitan dengan keharusan menyandang ban kapten di lengan.

Arsenal dan Ozil sama-sama sudah memenangi semuanya, kecuali kejayaan di final Liga Champions. Sebuah ranah yang belum Arsenal kenali, meskipun sudah sekali menyambangi. Terkadang, untuk melangkah jauh di Liga Champions, dan tentu saja menjadi juara, tak melulu soal taktik. Sedikit banyak, ketebalan mental adalah syarat mutlak.

Arsenal sering, bahkan terlalu sering malahan, kehilangan fokus di momen-momen penting. Misalnya ketika punya segala kesempatan untuk mengalahkan Tottenham Hotspur. Atau ketika punya 13 peluang emas yang akhirnya terbuang percuma untuk membobol gawang Manchester United.

Membangun semesta di sekitar pemain bermata sayu ini adalah upaya Arsenal untuk berlutut kepada kreativitas, pengalaman, dan kedewasaan.

Ia pernah menjadi bahan kritikan, bahkan sering, ketika seperti “menghilang” di laga-laga berat. Kritikan ini, sedikit banyak berasal dari fans Arsenal sendiri yang enggan menggunakan logika ketika mendukung tim kesayangannya. Padahal, tanpa logika, kita hanya seorang manusia bebal yang menatap cermin, mengagumi kedunguan diri sendiri.

Ozil dan Arsenal harus bisa kawin untuk soal kedewasaan. Selalu sadar dan waspada bahwa konsistensi adalah barang mutlak untuk musim yang panjang.

Membangun semesta di sekitar Ozil adalah usaha minimal membangun armada baru untuk menyongsong babak yang juga baru.

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *