Gundogan mah apa atuh: Suatu Sore Bersama Miyamoto Musashi dan Yagyu Munenori

Tidak hanya seperti cermin kehidupan, sepak bola juga berbicara soal pilihan, yang didalamnya memuat kontemplasi dan kebijaksanaan.

Atribut dalam artikel ini sebenarnya merupakan materi kontemplasi untuk jeda kompetisi. Namun, nampaknya “renungan” bersama MiyamotoMusashi dan Yagyu Munenori ini sangat cocok untuk menjadi tolok ukur memandang fenomena Ilkay Gundogan atau beberapa calon pemain baru yang sedang gencar dihubungkan dengan Arsenal. Beberapa nama tersebut antara lain Ilkay Gundogan, William Carvalho, dan Morgan Schneiderlin. Pada literatur ini, saya ingin fokus memandang Ilkay Gundogan dengan segala yang bisa ia tawarkan untuk skuat The Gunners.

Gundogan dan Fleksibilitas Kebutuhan

Seiring hengkangnya Jurgen Klopp musim depan, media-media Eropa menyebut akan terjadi eksodus di skuat Borussia Dortmund. Pemain-pemain seperti Marco Reus, Mats Hummels, dan Ilkay Gundogan bakal laris manis di jendela transfer. Khusus untuk Gundogan, klub-klub Premier League sepeti Manchester United dan Arsenal disebut sudah menyiapkan dana untuk memboyong gelandang asal Jerman tersebut. Arsenal mungkin memang membutuhkan pemain baru untuk musim depan, terutama untuk menambah “power” di lini tengah. Pertanyaannya, apakah Gundogan adalah pemain yang sedang Arsenal cari?

Matt Law, dalam kolomnya di The Telegraph menyebut Arsenal mungkin akan memboyong pemain yang bisa bertahan sekaligus menyerang sama baiknya seiring Francis Coquelin yang “terlahir kembali”. Secara spesifik, Matt Law menyebut Gundogan sebagai pemain yang tenacious and creative. Memang, Gundogan adalah sosok pemain yang bisa bermain di beberapa posisi. Idealnya, Gundogan bermain sebagai gelandang sentral. Ia juga mampu bermain sebagai gelandang bertahan. Kelebihan ini membuatnya menjadi dinamo penting dalam sistem permainan Dortmund.

Setelah sembuh dari cidera, Gundogan langung menjadi penting dalam kebangkitan Dortmund di paruh kedua musim ini. Gundogan banyak mengawali laga dari posisi gelandang bertahan (DMF). Di posisi tersebut, Gundogan tampil sebanyak 17 kali dengan 2 gol dan 2 assists, sebuah catatan yang menarik bagi seorang DMF. Berikut tabel keterangan Gundogan ketika melakoni peran tertentu.

CDYtjx1UgAAUYGy
Posisi dan kontribusi Gundogan – WhoScored.com

Ketika Dortmund berhasil mencapai laga final Liga Champions, Gundogan bermain lebih ke tengah dan berperan sebagai “wadah” kreativitas tim. Ia mendapatkan kebebasan untuk masuk ke wilayah lawan dan mengolah kesempatan. Kepercayaan dari Klopp ini menunjukkan kemampuan Gundogan untuk “naik dan turun” sama baiknya. Figur pemain seperti ini akan sangat cocok dengan sistem interplay Arsenal.

karakteristik
Karakteristik Gundogan

Menurut catatan WhoScored.com, kekuatan Gundugon terletak pada kemampuan mengumpan, menggiring bola, penyelesaian akhir, dan konsentrasi. Atribut tersebut sangat ideal bagi seorang box-to-box ortodok. Kemampuannya bermain umpan dan konsentrasi merupakan penyelaras yang ideal dalam aliran bola dan penguasaan ruang. Penyelesaian akhir dan level konsentrasi yang baik dapat menjadi salah satu solusi yang baik di depan gawang lawan. Sementara itu, kemampuan tackling Gundogan masuk dalam daftar kelemahannya. Sebagai seorang DMF, Gundogan memang lebih banyak atau bisa dikatakan lebih suka merebut bola tanpa menjatuhkan diri.

Beberapa kali Gundogan mencatatkan intersep yang cukup baik. Gegenpressing yang diterapkan Dortmund memang “membutuhkan” pemain yang mampu mencuri penguasaan lawan dalam sekejap sekaligus langsung mengubahnya menjadi pembuka peluang. Awalan yang paling ideal tentu sebuah intersep atau flick bola dari kaki lawan. Jadi, kelemahan dari sisi tackling dapat ditutup dengan kemampuannya membaca dan merebut bola dari kaki lawan.

Namun, jika diposisikan sebagai DMF di dalam sistem permainan Arsenal, Gundogan jelas harus memperkuat sisi tackling yang menjadi kelemahannya. Kenapa atribut tackling sangat penting bagi awalan gaya bertahan Arsenal? Sudah jamak disebut Arsenal belum menemukan keseimbangan antara bertahan dan menyerang, setidaknya sebelum Francis Coquelin menjelma menjadi “tukang jagal” di depan barisan pertahanan. Jika, dan hanya jika Gundogan akan menjadi tandem Coquelin, kemampuan memotong awalan serangan lawan harus ditingkatkan. Intersep di lapangan lawan mungkin akan menjadi dimensi ideal bagi Arsenal, namun gaya bertahan dan zona marking yang diterapkan Arsene Wenger terkadang membutuhkan kemampuan gelandang bertahan untuk melancarkan tackling. Belum lagi apabila Gundogan diposisikan sebagai “pengganti” Coquelin ketika rotasi dibutuhkan.

Pilihan untuk opsi rotasi mungkin akan menjadi pilihan yang tricky. Gundogan dan Coquelin berbeda secara tipe meskipun mempunyai peran yang identik. Fleksibilitas kemungkinan akan terus menyesuaikan dengan lawan yang dihadapi. Adaptasi terhadap sifat lawan tentu baru dapat dilakukan apabila mempunyai skuat ideal dengan komposisi yang tepat. Di separuh musim ini saja, Coquelin bermain hampir di semua laga, atau malah mungkin di semua laga. Jelas, untuk musim depan, Arsenal membutuhkan “tukang jagal” yang setidaknya mempunya kemampuan yang sama dengan Le Coq.

Kenapa harus seperti Coquelin? Mari menyandingkan Gundogan dan para box-to-box Arsenal. Pertama, Santi Cazorla sudah menjadi motor serangan dan kreativitas dari deep position sejak ia digeser menjadi gelandang sentral. Kemampuan olah bola yang ia tunjukkan menjadi solusi Arsenal keluar dari tekanan gelandang lawan. Cazorla juga sangat piawai dengan umpan panjang dan diagonal, seperti yang ia peragakan dengan sangat baik ketika melawan Hull City. Umpan 40 meter yang akurat jatuh ke kaki Aaron Ramsey dengan mulus.

santi
Statistik Santi Cazorla musim ini – Squawka

Perhatikan statistik yang diolah Squawka di atas. Dari posisinya sebagai gelandang sentral, Cazorla mampu menciptakan 67 peluang. Dari sisi akurasi umpan, Santi mencatatkan rerata hingga 88%. Artinya, keberadaan Santi sangat penting dalam alirab bola Arsenal. Rata-rata defensive action mencapai 2 kali setiap laga, tidak buruk untuk pemain yang aslinya berposisi sebagai fantasista di belakang striker.

Kini, kita lihat seorang Aaron Ramsey, yang pada pertandingan melawan Hull City, sekali lagi ia menunjukkan sebagai box-to-box yang komplet. Mengawali laga di pos “sayap kanan”, Ramsey bergerak bebas dan memudahakan kerja Cazorla dan Mesut Ozil. Sebagai wide-midfielder, Ramsey menunjukkan kemampuannya membaca ruang dan arah permainan. Golnya ke gawang Hull adalah contoh cut-inside dan pembacaan arah permainan yang sangat baik. Ramsey diberkahi dengan kemamuan individu yang cukup baik dan akurasi penyelesaian yang ideal, sama seperti Gundogan.

rambo
Statistik Aaron Ramsey – Squawka

Musim ini, Ramsey tidak bermain di beberapa laga karena cidera. Dari statistik di atas terlihat kontribusinya sangat nyata ketika bermain dalam kondisi terbaik. Sebagai seorang gelandang, Ramsey berkembang menjadi gelandang serba-ada. Ia mampu bertarung di tengah, mengalirkan bola, menyusun dan membangun serangan, bermain passing, hingga mencetak gol. All-around player seperti Ramsey sangat jarang ditemui dan Arsenal harus bersyukur mempunyai dirinya. Salah satu aspek mengerikan dari seorang Ramsey adalah konsistensinya dalam mengubah wajah sebuah laga, baik dengan gol-golnya atau pergerakan dari half-space.

Kepada Sid Lowe (the Guardian, 2013), Cesc Fabregas menyebut Ramsey dan Jack Wilshere mampu berkembang “sejauh yang mereka mau”. Artinya, kualitas Ramsey dan Wilshere masih mampu berkembang lebih baik lagi daripada level kualitasnya saat ini. Ini menjadi gambaran sempurna betapa lini tengah Arsenal akan menuai bibit pemain unggul yang Arsene Wenger tanam beberapa tahun yang lalu. Dengan data dan penggambaran di atas, masihkah Arsenal membutuhkan Gundogan? Secara nyata, kualitas Gundogan saat ini tidak jauh berbeda dengan Wilshere atau Ramsey, di mana perkembangan kedua pemain muda Arsenal tersebut tidak boleh dihambat.

Saya tidak ingin menghakimi bahwa Arsenal memang tidak membutuhkan tenaga Gundugan. Toh, si pemain sendiri belum bergabung dan tidak ada catatan yang bisa dijadikan tolok ukur. Namun, yang pasti, Arsenal membutuhkan keseimbangan, seorang penyeimbang yang mau berhenti di tengah lapangan, mengawasi serangan balik lawan, melakukan covering daya gedor Arsenal, dan melakukan tugas kotor untuk menjadi “tukang jagal”.

Musashi dan Yagyu Munenori

Dalam buku The Book of 5 Rings, Thomas Cleary menjelaskan beberapa pokok pemikiran Miyamoto Musashi dan Yagyu Munenori, keduanya legenda pemain pedang bangsa Jepang. Bagi Musashi, kondisi pikiran sangat penting dalam seni perang. Musashi menekankan bahwa seorang petarung harus menekankan perhatian pada kondisi pikiran (mind), ketimbang fisik.

“Bagi orang yang secara fisik kecil, adalah sangat mendasar untuk mengetahui bagaimana menjadi besar, dan bagi orang yang secara fisik besar, sangat mendasar untuk mengetahui bagaimana harus menjadi kecil; yang esensial diperhatikan adalah menjaga agar mind bebas dari seluruh prasangka subyektif (Clearly, 2007: 46)”.

Pandangan Musashi tersebut bisa menjadi lukiasan tepat bagi pemain-pemain Arsenal, yang memang terlihat “kecil” secara fisik. Namun, fisik kecil tidak lah penting karena yang ditekankan adalah kekuatan mind. Kekuatan ini adalah modal dasar dari kedalaman niat dan totalitas setiap pemain. Kekuatan mind mampu mengubah manusia, melahirkan kembali setiap individu menjadi seseorang dengan level yang berbeda. Lihat saja bagaimana Coquelin, dari seorang angora skuat yang pernah “dibantai” Manchester United dengan 8 gol dan kini menjadi salah satu pilar kebangkitan Arsenal sejak bulan Januari.

Yang ingin saya tekankan adalah, solusi kebutuhan akan “pemain baru” tidak selalu ada di jendela transfer. Terkadang, sumber daya yang kita miliki sendiri sudah cukup untuk mengubah peruntungan. Semua ini adalah soal state of mind, sesuatu yang harus diperkuat dan ditanamkan ke dada setiap pemain. Jika satu pemain bisa melakukannya, kenapa yang lain tidak bisa. Kondisi mental setiap pemain mungkin berbeda, namun pandangan untuk menjadi the greatest tentu bisa disamakan. Satu titik ini bisa menjadi modal terbesar untuk mengisi skuat.

Sementara itu, Yagyu Munenori mengajarkan satu konsep penting, yang mampu memperkuat pandangan Musashi di atas, yaitu konsep “pedang yang diam”. Yagyu Monenori memandang “keadaan diam” dalam ungkapan “pedang yang diam” dapat diartikan sebagai ‘jiwa, roh, spirit, dan keajaiban’. Jiwa selalu berada di dalam ruang diri, sedangkan keajaiban dimanifestasikan ke luar. Seperti manusia, jiwa yang kuat akan melahirkan “keajaiban” yang bahkan si individu tersebut tidak akan menyedarinya. Yagyu menggunakan analogi pohon bunga untuk menggambarkan “pedang yang diam”. Pohon bunga memiliki jiwa yang kuat untuk tumbuh dan berkembang. Manifestasi jiwa tersebut terlihat dari bunga-bunga harum yang mekar. Dari sumber jiwa tersebut lahir juga daun-daun hijau sumber oksigen bagi sesame. Inilah yang disebut sebagai keajaiban. Dari dalam diri seseorang tersimpan anugerah besar yang tertidur.

Bagi Arsenal, penguatan jiwa bagi setiap pemain justru akan menjadi kekuatan tersembunyi. Kekuatan dan kestabilan jiwa akan melahirkan keajaiban yang mungkin belum pernah kita saksikan. Ini bukan solusi yang mudah, tentu saja. Namun inilah yang disebut dengan harmonisasi. Dari sebuah keadaan jiwa dengan nuansa harmoni, lahir manusia-manusia unggul yang menjadi pondasi masa depan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi sesama.

Kesimpulan

Membeli pemain baru selalu menjadi ekspektasi fans di setiap jendela transfer, terutama bagi klub dengan keuangan sehat dan memiliki modal. Namun, keharmonisan tidak selalu berasal dari aspek eksternal manusia (baca: Arsenal). Gundogan mungkin dapat menjadi tambahan penting bagi level kualitas skuat. Namun, sebelum kita sibuk menghitung dana untuk meminang pemain baru, alangkah baiknya kita melihat sumber daya yang sudah ada. Dengan catatan, tentu harus ada penguatan mental dan penyelarasan cita-cita.

#COYG

Daftar pustaka:

Clearly, Thomas. 2007. Miyamoto Musashi: The Book of 5 Rings. Yogyakarta: Amara Book.

Squawka.com

WhoScored.com

Comments

11 thoughts on “Gundogan mah apa atuh: Suatu Sore Bersama Miyamoto Musashi dan Yagyu Munenori”

    1. makasih lho….jadi terharu..

      aku sih ngelihat gimana kebangkitan Coquelin. Seharusnya bisa menjadi contoh bagi pemain2 muda. Arsenal punya banyak talenta. Sayang kalau “terbuang” :))

  1. Arteta, rosicky & flamini bisa di keep 1-2 tahun utk jd pembimbing untuk coquelin, bielik, ox, wilshere maupun ramsey. Mereka perlu pemain senior ‘berhati’ Arsenal.

    1. Rosicky dan Flamini kabarnya dilepas (Sky Sport). Arteta bertahan 1 musim lagi.

      pemain2 seperti Ramsey, Wilshere, dan Ox mungkin gak terlalu membutuhkan mentor lagi. Mereka bahkan sudah dianggap menjadi pemain senior di Arsenal karena melihat kontribusi. Saat ini, pemain2 spt Ozil dan Cazorla yg justru dipandang lebih cocok menjadi mentor karena mereka masih bermain secara reguler dan bisa memberikan contoh.

  2. bener bro, arsenal lebih butuh pemain bertipe kaya coquelin determinasi tinggi. flamini harus diakui udah gak sekeren dulu 🙁 .. mental juga emang harus dibenahi.. kadang” arsenal mainnya loyo walaupun full team.. kaya jaman invincibles dulu. pemain arsenal juga udah lengkap sebnernya buat jadi title contender musim depan. masalah besarnya ya cidera itu, gaktau kenapa apa gara gara metode latihan wenger ya? gatau juga hmmm

    1. So, chef tegasin di artikel, Arsenal butuh gelandang petarung, bukan tipe Ramsey atau Cazorla lagi. Musim depan bakal panjang, ndak mungkin terus tergantung sama Coquelin.

      soal cidera itu perpaduan banyak hal. mulai dari latihan dari Wenger yg memang terkadang lebih berat, pemainan kasar dari lawan (ini yg sering terjadi kan?), dan si pemain sendiri.

Tinggalkan Balasan ke jody raharjo Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *