Keprihatinan di Balik Kekalahan Arsenal dari Ostersund

Banyak yang tidak terlalu peduli dengan kekalahan Arsenal dari tangan Ostersund di leg kedua babak 32 besar Liga Europa. Padahal di balik kekalahan ini, tersimpan keprihatinan, bahkan mungkin bisa kita sebut: kekhawatiran.

Mari kita bahas satu per satu.

Pertama: cara bermain yang tak konsisten.

Arsenal dengan tim utama, dan Arsenal dengan tim kedua, jurang perbedaannya terlalu jauh. Masalah tersebut sangat berbahaya karena berpengaruh kepada cara bermain.

Selama ini, The Gunners dikenal sebagai jago kandang, terutama ketika melihat catatan tandang yang bisa membuat George Graham bangkit dari kuburnya hanya untuk menangis. Catatan yang membuat Arsenal menjadi “jago kandang” tersebut dipetik ketika (rata-rata) tim utama yang turun bermain.

Menjadi masalah ketika tim lapis kedua turun bermain dan Arsene Wenger tak bisa membuat mereka menyajikan level performa yang mendekati tim utama. Kita tentu belum akan bicara soal tim lapis kedua menduplikasi cara bermain tim utama. Mendekati level performa saja sudah sangat baik.

Mengapa? Karena Arsenal sebenarnya bisa jika kita menengok penampilan lapis kedua ini di Liga Europa babak putaran grup. Mengapa ketika melawan Ostersund, di leg kedua, di rumah sendiri, ketika sudah unggul agregat 3-0, Arsenal bermain sangat buruk? Meremehkan? Atau yang lebih esensial lagi: tidak konsisten? Nampaknya, jawaban yang kedua yang lebih masuk akal.

Meriam London yang tak konsisten adalah sebuah kebiasaan buruk yang dimaklumi. Sikap pelatih dan para pemain yang permisif dengan sikap medioker ini membuat Arsenal seperti berjalan maju satu langkah, untuk kemudian mundur dua langkah.

Kedua: individu yang tak (lagi) siap

Jika poin pertama bicara lapis kedua secara tim, poin kedua menekankan kepada para individu yang seiring waktu menujuk level medioker.  Dari Danny Welbeck, ke Calum Chambers, lalu Sead Kolasinac, hingga Rob Holding.

Welbeck mendapatkan kesempatan emas ketika Alexandre Lacazette cedera lutut. Lantaran tak bisa memainkan Pierre-Emerick Aubameyang di ajang Liga Europa, Wenger tak punya pilihan lain selain menurunkan Welbeck.

Semenjak dirinya pulih dari cedera panjang, tepat setelah bergabung dari Manchester United, Welbeck tak lagi mencapai level performa yang memuaskan, apalagi konsisten. Ketika bisa bermain apik di satu pertandingan, Welbeck akan sungguh mengecewakan di tiga pertandingan. Membuang peluang sudah menjadi citra diri penyerang asal Inggris tersebut.

Entah mengapa, armada Inggris di dalam skuat Arsenal memang tak kunjung bisa diandalkan, kecuali Jack Wilshere. Terutama dua bek tengah dalam diri Chambers dan Holding. Kembalinya Chambers yang membuat Wenger tak membeli bek baru. Pun demi perkembangan Holding, Wenger mengambil sikap yang sama.

Yang mereka siapkan untuk membayar kepercayaan Wenger? Penampilan di bawah standar yang dibutuhkan.

Lapis kedua secara individu nampak tak siap untuk mengambil tanggung jawab yang biasanya diemban tim utama. Dan ini berbahaya ketika badai cedera kelak kan datang kembali. Tak ada pelapis yang siap (kita belum bicara kualitas), sungguh menjadi beban untuk tim secara keseluruhan.

Ketiga: Arsenal (akan) dipaksa boros.

Tentu, jika sudah mentok, jalan terbaik adalah membuang pemain yang tak lagi bisa diandalkan. Dan masalahnya, ada banyak pemain Arsenal yang menyandang status ini. Mulai dari kiper, hingga penyerang, semua ada.

Petr Cech, David Ospina, Calum Chambers, Mohamed Elneny, hingga Danny Welbeck. Cukup banyak yang perlu dilepas. Seiring melepas pemain, tentu manajemen harus mendatangkan pemain-pemain baru. Untungnya, manajemen sudah melepas sebagian pemain yang berstatus dead wood dalam diri Kieran Gibbs, Alex Oxlade-Chamberlain, hingga Theo Walcott.

Dibutuhkan setidaknya dua jendela transfer lagi untuk merombak skuat Arsenal. Dan hal ini bisa akan terhambat ketika tampuk pelatih kembali gaduh. Pergantian pelatih tentu akan mengubah ide keseharian klub ini. Jika Wenger bertahan? Bisa jadi, pemain-pemain sepeti Cech, Ospina, Chambers, Elneny, dan Welbeck dipertahankan. Dan ini akan melahirkan masalah baru. Atau setidaknya memelihara bangkai, memelihara masalah yang sama.

Satu kekalahan yang menyibak keprihatinan di baliknya. Kapankah revolusi itu akan dimulai?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *