Arsenal dan Sepak Bola

Arsenal dan Sepak Bola: Guru Terbaik Belajar Memahami Ungkapan “Tak Bisa Menyenangkan Semua Orang”

Arsenal dan Lucas Perez mengajarkan dinamika kehidupan. Ketika keikhlasan hari ini akan menyelamatkan kehidupan orang banyak di masa depan. Jangan egois. Mari berbesar hati.

Budi Windekind mengakhiri tuliannya di Fandom dengan sebuah kalimat, yang, pada kenyataannya sering terjadi, tetapi sulit sekali dipahami. Dia menulis:

“Walau pastinya, keputusan yang diambil kelak tak selalu bisa menyenangkan semua pihak.”

Pada kenyataannya, setiap keputusan, tidak mungkin memuaskan semua pihak. Menerima dengan ikhlas dan memahaminya sebagai sebuah konsensus yang melahirkan istilah “musyawarah untuk mufakat”. Meskipun pada kenyataannya, ada sebuah istilah “sepakat untuk tidak sepakat”. Yang penting hasil; kebaikan bersama.

Di tengah pandemi, di tengah kegelisahan dunia, memuaskan semua orang itu pekerjaan maha berat. Social distancing membuat umat muslim tidak bisa tarawih di masjid. Sedih, tetapi inilah konsensus terbaik demi keselamatan manusia, in the long run.

Physical distancing, membuat pasar menjadi sepi selama beberapa minggu. Harga kebutuhan pangan jatuh, petani merugi. Menyayat hati melihat petani dan peternak merugi. Namun, ada pertaruhan besar di sana. Jika dipaksakan, keselamatan yang dipertaruhkan. Oleh sebab itu, di sinilah masuk negara. Negara, dengan segala baik dan buruk polah tingkahnya.

Dan sebuah pikiran klise muncul di sini…kenapa kita tidak belajar kepada Arsenal dan sepak bola. Tentu saja, kamu bisa mengganti “Arsenal” dengan semua nama klub. Saya yakin, dilema “tidak bisa memuaskan semua orang” terjadi di semua klub.

Ini adalah tulisan tentang kerelaan hati, untuk mengalah, demi kebaikan bersama, in the long run. Ini adalah tulisan tentang keprihatinan, tentang kebesaran hati seorang pesepa bola.

Arsenal dan misteri Lucas Perez

Fans Arsenal masih ingat nama Lucas Perez? Kalau sampai lupa, sih, kebangetan. Lucas Perez sudah seperti gambaran mas-mas di acara Azab di Indosiar. Dia jadi mas-mas yang teraniaya, disia-siakan, disakiti, tetapi bisa ikhlas menerima, tidak sampai komplain, dan menyerahkan takdirnya kepada Gusti Allah.

Dan yang “ngejahatin” adalah seseorang yang dipuja fans Arsenal sejagat. Dia adalah Arsene Wenger. Entah alasan apa yang meletup di dalam kepala Arsene Wenger, Lucas Perez hampir selalu tersingkir dari tim utama. Padahal, ketika diberi menit bermain, diberi kepercayaan, Lucas Perez jauh lebih produktif ketimbang Theo Walcott, wonderkid sepanjang masa bagi Arsenal.

Sampai hari ini, ketika Lucas Perez sudah hengkang dan Arsene Wenger pensiun, kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di balik layar. Kenapa Wenger menyingkirkan Lucas? Apakah Lucas nggak pernah mau ikut patungan bayar lapangan? Kalau habis dari kamar mandi selalu lupa matiiin lampu? Nggak pernah mau cuci piring habis makan? Misterius, tidak ada yang benar-benar tahu.

Ada yang bilang kalau legenda Arsenal itu sudah kehilangan sentuhannya. Kehilangan kepercayaan kepada orang baru, yang secara tiba-tiba datang dan bermain lebih baik ketimbang pemain-pemain kesayangannya. Satu sisi “kebapakan” yang ketika kebablasan menjadi tidak produktif.

Satu hal yang membuat saya terkesan adalah Lucas Perez tidak pernah benar-benar memberontak. Dia tidak pernah protes secara terbuka, apalagi menggunakan media sosial buat ngasih kode-kode kalau lagi kesal. Pemain asal Spanyol itu tidak pernah membanting jersey dan ban kapten ketika dirinya diganti di pertengahan laga.

Ketika diminta duduk di bangku cadangan, Lucas menurut. Ketika dimainkan di Piala Liga, FA Cup, atau Europe League, dia menyambutnya dengan level profesionalitas yang mengagumkan. Seakan-akan, Lucas bermain tanpa beban. Tanpa kekesalan. Rasa yang “seharusnya” dirasakan oleh pemain yang selalu memberi kontribusi tapi tidak mendapatkan kepercayaan.

Selain Abou Diaby dan Eduardo, afeksi terbesar saya adalah kepada Lucas Perez. Kepada caranya menerima keadaan, kepada profesionalitasnya untuk menerima “konsensus” dari Arsene Wenger dan staf pelatih, demi kebaikan Arsenal secara keseluruhan.

Ikhlas menerima keadaan ketika sadar bahwa kekesalan kita akan menyakiti orang lain sangat dibutuhkan akhir-akhir ini. Keikhlasan untuk tidak bertemu orang tercinta di kampung halaman dampaknya sangat besar. Artinya, levelmu sebagai manusia naik satu tingkat. Manusia yang menghargai keselamatan orang lain, secara utuh, in the long run.

Belajarlah dari hal-hal terdekat. Dari hal-hal yang kamu pahami. Dari Arsenal dan segala keikhlasan yang ada di tengah sepak bola. Meskipun hal-hal itu membuatmu sedih dan merasa sendirian. Kebesaran hati seperti itu yang akan menyelamatkan. Meskipun memang berat, tetapi pada akhirnya, kita tidak bisa egois memikirkan diri sendiri.

Kita boleh merasa tidak puas. Namun ingat, perjuangan melawan corona adalah sebuah maraton. Keikhlasan hari ini, menjadi berkah bagi banyak orang di masa depan, in the long run.

BACA JUGA New Normal: Tentang Barter Lacazette-Partey dan Masa Depan Streaming Ilegal atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *