Dennis Bergkamp dan Makna di Balik Invincible: Demi Kewarasan di Tengah Pandemi Corona

Dennis Bergkamp dan Makna di Balik Invincible: Demi Kewarasan di Tengah Pandemi Corona

Dennis Bergkamp mengajari kita bahwa manusia tidak bisa berproses sendirian. Ketika ego tidak boleh diberi tempat. Bersatu, side by side, untuk melawan sebuah fenomena yang bisa menghapus manusia dari muka bumi ini.

Tema sepak bola mulai menjemukan di tengah pandemi corona. Mungkin, hanya berita transfer yang bisa mengalihkan kita dari kerinduan akan laga-laga lapangan hijau. Meskipun, pada titik tertentu, berita transfer cuma sekadar candu. Sedikit kadar, menenangkan. Terlalu banyak memabukkan. Membunuhmu perlahan.

Namun, sayangnya, di tengah pandemi corona, kita butuh berita transfer. Kita butuh setetes dosis endorin demi kewarasan. Jangan terlalu banyak menyesap dan menghirup berita transfer, saran saya. Mari alihkan energi untuk mencari inspirasi. Mencari endorin dalam rupa berbeda. Dari kisah-kisah kepahlawanan yang dibungkus dengan sebuah mantel tebal bernama Arsenal.

Arsenal berbaik hati dengan membuat banyak konten bergizi di kanal Youtube resmi mereka. Salah satunya adalah dokumenter perjalanan karier Dennis Bergkamp. Semenjak membuka tirai karier bersama Jong Ajax hingga menutupnya di Emirates Stadium, bersama Arsenal. Sebuah laga testimonial menjadi penanda akhir 11 tahun pengabdian Dennis Bergkamp bersama The Gunners.

Menonton dokumenter Dennis Bergkamp seperti menjadi semacam “mesin pengingat” untuk saya. Tentang proses saya jatuh cinta dengan Arsenal. Tentang sebuah perjuangan mengubah identitas; dari boring boring Arsenal, dari Arsenal yang tradisional, menjadi sebuah klub kosmopolitan bersama Arsene Wenger.

Pemain terkasih datang dan pergi, namun Dennis Bergkamp selalu ada di setiap kesusahan dan kebahagiaan di masa emas Arsene Wenger. Dari Ian Wright, ke prodigi bernama Nicholas Anelka, hingga seorang raja, Thierry Henry. Kisah kasih kegagalan, kesuksesan, dan serba tangis yang mengiringi, melantunkan nama The Iceman, Dennis Bergkamp, di dalamnya.

Bergkamp sudah merasakan semuanya. Titik terendah, ketika gagal mengeksekusi penalti di babak perpanjangan waktu Piala FA melawan Manchester United. Sebuah kegagalan yang kesedihannya bertahan hingga beberapa hari di pundak Bergkamp. Titik tertinggi, ketika memenangi dua piala pada 1998 serta menjadi protagonis skuat invincible yang melegenda itu.

“Ketika bermain di lapangan bersalju, Dennis Bergkamp tidak akan meninggalkan jejak. Dia sehebat itu. Dia seperti melayang,” puji John Hartson, mantan pemain Glasgow Celtic yang kini menjadi pundit BT Sport. Sehebat itulah sosok Bergkamp.

Mereka yang sempat menyaksikan prime Dennis Bergkamp sudah selayaknya bersyukur. Mereka sempat menyaksikan sosok dewa di lapangan. Sosok yang semenjak kedatangannya, tidak pernah diragukan oleh Arsenal. Sosok yang menyokong mental skuat invincible. Menjadikan mereka menyandang status “team to beat”, sebuah tim yang menjadi incaran banyak musuh.

Dennis Bergkamp dan makna di balik invincible

Played 38, won 26, drawn 12, lost exactly…none!

Ada dua pencapaian yang sebetulnya sangat diidamkan Dennis Bergkamp; Liga Champions dan Piala Dunia. Di Paris 2006, Bergkamp gagal bermain setelah James Lehmann dikartu merah. Sadar kalau dirinya semakin menua, pemain asal Belanda itu sadar kalau Arsenal lebih butuh pemain bertahan ketimbang dirinya. Apalagi setelah unggul 1-0 lebih dulu.

Bersama timnas Belanda, dia merasa seharusnya bisa berbuat lebih. Pencapaian tertinggi bersama timnas Belanda cuma perempat final Piala Dunia 1998. Timnas Belanda kalah adu penalti melawan Brasil. Dia merasa, seharusnya, melihat komposisi skuat, timnas Belanda bisa mendaki sampai partai puncak.

Namun, pada akhirnya, Bergkamp tetap bersyukur. Kariernya tidak bisa dibilang gagal. Apalagi dirinya termasuk, dan menjadi protagonis, skuat legendaris, invincible.

Di mata Dennis Bergkamp, invincible bukan sekadar pencapaian. Bukan glory yang dia sesap dari proses panjang memecahkan rekor yang sudah bertahan lebih dari 100 tahun itu. Bagi pemain yang pernah bermain untuk Inter Milan itu, skuat invincible adalah gambaran perjuangan manusia. Perjuangan kolektif sebagaimana layaknya manusia di tengah komunitasnya.

“Saya merasa sangat bangga ketika melihat kembali karier saya. Kamu butuh pemain lain supaya dirimu menjadi pemain yang lebih baik. Jadi, jika kamu mendahulukan dirimu dahulu, dan berharap pemain lain menerimanya, maka kamu membuat kesalahan. Kamu butuh orang lain. Jadi, rasa saling menghormati harus ada di antara pemain dan untuk tim itu sendiri. Dan baru kemudian, kamu bisa membuat perbedaan. Itulah yang selalu saya rasakan,” kata Bergkamp.

“Ketika kamu berpikir bisa melakukannya sendirian, kamu memang bisa memenangi satu atau dua pertandingan. Kamu bisa menjadi pemain terbaik. Tetapi kamu tidak akan memenangi sesuatu pada akhirnya. Tidak mungkin terjadi, karena kamu membutuhkan sesama. Ketika ada rasa saling menghormati, maka saya jadi pemain yang lebih baik,” tegasnya.

Gambaran akan skuat terbaik di mata Bergkamp adalah sebuah kaca untuk kehidupan kita bersama. Terutama di tengah pandemi. Saya dan kamu tidak akan bisa bertahan seorang diri. Saya dan kamu, harus bisa menekan ego demi sesuatu yang lebih besar.

Kamu bisa menimbun sumber daya. Namun, pada akhirnya sumber daya itu akan habis dan kamu akan merasa sendiri. Namun ketika hidup bersama, saya dan kamu akan jadi manusia yang lebih baik. Menjadi manusia yang bisa saling menguatkan. Menjaga kehidupan terus berjalan. Tanpa kelaparan, tanpa rasa kesepian di tengah pandemi ini.

Sepak bola, yang terasa menjemukan akhir-akhir ini, ternyata masih bisa mengajari kita. Sebuah pelajaran bahwa manusia tidak bisa berproses sendirian. Ketika ego tidak boleh diberi tempat. Bersatu, side by side, untuk melawan sebuah fenomena yang bisa menghapus manusia dari muka bumi ini.

BACA JUGA Arsenal dan Sepak Bola: Guru Terbaik Belajar Memahami Ungkapan “Tak Bisa Menyenangkan Semua Orang” atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *