New Normal: Tentang Barter Lacazette-Partey dan Masa Depan Streaming Ilegal

New Normal: Tentang Barter Lacazette-Partey dan Masa Depan Streaming Ilegal

New normal. Sebuah istilah yang menggambarkan usaha manusia untuk beradaptasi dengan akibat pandemi virus corona. Sebuah keadaan baru yang kelak akan dipercaya sebagai sesuatu yang biasa saja, menggantikan keadaan normal yang sebelumnya kita percayai.

Ajeng Rizka menggambarkan keadaan new normal lewat sebuah tulisannya di Mojok. Dia menulis:

“Orang-orang mulai memprediksikan tatanan ‘new normal’ di mana kebiasaan kita betul-betl berubah. Mengenakan masker belakangan jadi perilaku umum, bukan lagi sebuah aksi penyamaran dari publik atau niatan menghalau debu saat naik motor.

Menikah tanpa pesta yang sejak dulu tabu bukan main, belakangan jadi hal yang lumrah. Bukan tidak mungkin pasca pandemi kita justru nyaman dengan hidup yang terlanjur bergeser. Menjalani sebuah kebiasaan baru yang tanpa sengaja mengalami normalisasi.”

Apakah keadaan new normal itu juga akan terlihat di sepak bola? Manusia akan selalu beradaptasi ketika lingkungannya berubah. Sekecil apapun itu, perubahan pasti akan terasa. Perbincangannya sudah mulai mengemuka.

Barter sebagai new normal

Bagi fans Arsenal, ketika membicarakan potensi transfer Thomas Partey, nama Alexandre Lacazette akan mengiringi. Mengapa begitu?

Fans Arsenal tahu betul kalau harga transfer Partey cukup tinggi. Konon menyentuh 50 juta paun. Ironis, Januari yang lalu, kita akan dengan mudah memaklumi harga transfer pemain berkualitas yang menembus 50 juta, baik paun maupun euro. Kini, empat bulan kemudian, terjadi jungkir balik kenyataan. Harga 50 juta paun mulai dianggap kemahalan.

New normal? Sebetulnya tidak juga. Toh kita rutin sekali berteriak kalau inflasi harga pemain sudah tidak masuk akal. Saya rasa, berkat pandemi virus corona, kita punya peluang untuk kembali ke “normal” yang benar-benar “normal”. ketika harga pemain dihargai berdasarkan kualitas, bukan status home grown, misalnya.

Narasi yang sifatnya adaptis dilempar fans Arsenal. Bagaimana kalau Partey ditukar dengan Lacazette. Arsenal butuh Partey, sementara Atletico Madrid sudah sejak lama dikabarkan tertarik kepada Lacazette. Narasi akan keadaan “new normal” ini sudah kita kenal sejak 3.000 tahun yang lalu. Kita menyebutnya sebagai sistem barter.

Sekilas sistem barter ini terdengar sangat menarik. Masuk akal, bahkan. Ada dua klub yang saling menginginkan pemain masing-masing. Seperti halnya Arsenal dan Atletico tadi. Namun, bagaimana cara menakar “nilai barang” yang layak untuk dibarterkan?

Apakah hanya sekadar menggunakan standar “saling membutuhkan” saja? Saya kira new normal dengan sistem barter ini tidak sesederhana kelihatannya. Kenapa?

Karena sepak bola sudah mengenal “harga pasar”. Nilai ini muncul karena banyak sebab. Misalnya dari sisi usia, ukuran potensi, hingga performa. Jika Partey dibanderol 50 juta paun, apakah harga pasar Lacazette layak untuk dipertukarkan? Fans Arsenal sangat tahu kalau performa Lacazette sangat anjlok musim ini. Bisa dijual dengan harga 25 juta paun saja sudah sangat bersyukur.

Bagaimana caranya supaya Atletico mendapatkan “barang dengan nilai sama”? Apakah Arsenal harus menyertakan satu atau dua pemain supaya timbangannya seimbang? Nanti dulu. Ada yang namanya kebutuhan tim, di mana menyertakan satu atau dua pemain ke dalam sistem barter bisa mengganggu keseimbangan skuat.

Sistem barter, jika akan dipahami sebagai new normal, mungkin akan lebih mudah dilakukan jika pemain yang terlibat tidak berbanderol tinggi. Mungkin akan lebih mudah dilakukan di Divisi 2 atau 3. Maaf saja, jika membicarakan pemain dengan banderol tinggi, mencarikan titik seimbang dari klub lain bukan urusan sederhana.

Dulu, mengukur nilai sekerat daging bisa lebih mudah dilakukan. Misalnya dibarter dengan sekeranjang sayuran dan buah-buahan. Barter terdengar menjanjikan, tetapi sulit diterima di sepak bola di mana kapital dalam jumlah besar selalu mengiringi.

New normal dan streaming ilegal

Konon, 20 klub Serie A sudah seiya sekata untuk menyelesaikan kompetisi. Sementara itu, Liga Inggris juga akan “dipaksa” untuk bergulir lagi. Kedua kompetisi ini ditargetkan selesai di Agustus 2020.

Kabarnya, sisa pertandingan di dua kompetisi itu bisa disaksikan secara gratis. Mereka yang sudah berlangganan tidak perlu takut uangnya hangus begitu saja. Tentu ini kabar yang “menggembirakan” untuk banyak orang. Kerinduan kepada sepak bola nampaknya sudah sampai di ubun-ubun.

Berbicara soal membayar untuk menonton, atau berlangganan, bagaimana dengan musim depan? Apakah otoritas liga hanya fokus untuk menyelesaikan musim ini lalu berdoa berjamaah memohon pandemi segera berakhir, yang mana tidak tahu kapan, sehingga sepak bola bisa kembali seperti sediakala?

Saya membayangkan kegelisahan yang mungkin kelak akan terjadi. Orang-orang akan begitu kecewa ketika musim ini dipaksa berjalan, tetapi musim depan sepak bola akan berhenti total. Orang-orang sudah kadung exited ketika sepak bola kembali. Bagaimana new normal akan terjadi di musim depan?

Membayar untuk menonton tayangan olahraga, saya rasa, akan menjadi kebutuhan tersier. Bahkan mungkin lebih rendah lagi levelnya. Ini new normal di dalam kepala saya. Apalagi ketika memikirkan resesi ekonomi yang terjadi karena pandemi. Pola pikir food on the table akan menjadi yang utama. Tidak bisa ditawar. Ketimbang perut lapar, langganan menonton sepak bola akan disingkirkan.

Kita pakai saja langganan MolaTV sebagai contoh. Misalnya, nilai hak siar pertandingan mengalami penurunan, membuat MolaTV memangkah harga langganan. Misalnya lagi, dari Rp1 juta menjadi Rp750 ribu. Ketika dunia mengalami krisis ekonomi dan sepak bola tetap berjalan, apakah kamu rela membelanjakan Rp750 ribu untuk menonton pertandingan?

New normal akan terjadi, ketika orang mencari solusi untuk bertahan hidup. Orang TV, sebaiknya, sudah memperkirakan hal ini: ketika orang enggan membelanjakan Rp750 ribu untuk berlangganan dan mengalihkannya untuk kebutuhan sehari-hari atau menabung. Yang terjadi kemudian: streaming ilegal akan semakin kuat karena dibutuhkan orang banyak.

Saat ini, perang terhadap streaming ilegal masih jauh dari kemenangan. Selalu ada solusi untuk “membobol” tayangan resmi dan dilepas secara gratis lewat jalur belakang. Bagaimana ketika orang tidak mampu langganan sementara sepak bola terus berjalan? Ketika daya beli jauh menurun, apakah tayangan sepak bola secara legal akan tetap diminati?

Pada titik tertentu, sulit menyalahkan “kejahatan” ini karena dua hal. Pertama, biaya langganan yang tidak bisa dijangkau banyak orang. Kedua, untuk kesayangan yang namanya sepak bola, jalan apa pun akan ditempuh, bahkan ketika harus melanggar hukum. New normal, ketika streaming ilegal semakin kuat dan tak terbendung? Sangat mungkin terjadi.

BACA JUGA Arsenal yang Gelisah: Apakah Berita Transfer Masih Relevan atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *