Didi Kempot Arsenal

Didi Kempot dan Terlatih Ambyar Hati Bersama Arsenal

Selasa lingsir wengi. Tiba-tiba badan saya terasa lemas. Saya kesulitan menemukan sebuah kata untuk menjelaskan perasaan malam itu. Muram, jenuh. Mungkin dua kata itu yang bisa mewakili perasaan saya. Sebuah perasaan berat, yang di pagi harinya, disambut kabar duka: Didi Kempot meninggal.

Buat kamu kelahiran akhir 80an dan awal 90an, terutama yang terlahir sebagai orang Jawa, campur sari tak bisa lepas. Bersama pagelaran wayang kulit, wayang orang, dan dramaturgi lainnya, campur sari punya tempat tersendiri. Saya sendiri tumbuh besar bersama sepak bola, gelas blirik berukuran besar, lagu-lagu campur sari, dan suara emas Bapak saya.

Salah satu penyanyi favorit Bapak adalah Didi Kempot. Kamu tahu istilah rengeng-rengeng? Itu sebuah istilah untuk menggambarkan seseorang yang sedang bernyanyi tetapi dengan cara bergumam. Bisa dengan kata-kata atau tanda bunyi saja. Beliau suka sekali Didi Kempot.

Didi Kempot yang saya kenal adalah penyanyi yang sangat produktif. Kalau tidak salah, lagu yang Pakdhe Didi tulis sudah lebih dari 1.000 buah. Tema cinta, keluarga, dan persahabatan yang paling kental mewarnai. Beliau sangat konsisten di jalur campur sari.

Meski dihajar oleh raungan musik rock, dangdut, pop, lalu melayu, Didi Kempot sangat konsisten. Untuk kesetiaan dan perjuangannya ini, saya kagum sekali. Tidak banyak musisi yang setia dengan jalur yang mereka titi. Terkadang, ada musisi yang menjual identitas demi pasar.

Second coming Didi Kempot

Selepas tahun 2005, lagu-lagu campur sari seperti kehilangan pijakan. Setelah lagu-lagu pop dari Jepang masuk, lalu disusul K-Pop, selera pasar bisa ditebak. Ketika rock dan pop saja harus rela menepi terlebi dahulu, campur sari jelas tidak lagi punya daya untuk bertarung.

Nama Didi Kempot sempat hanya terdengar sayup-sayup saja. Kehadirannya tidak lagi panggung utama. Beliau bisa ditemui di panggung-panggung kecil, di daerah pinggiran, atau acara-acara kecil jauh dari sorotan kamera pasar musik Indonesia.

Lalu hadir Agus Mulyadi dan Gofar Hilman….

“Didi Kempot adalah orang yang bisa membuat kita merasakan patah hati tanpa perlu jatuh cinta,”kata Agus Mulyadi. Beberapa twit Agus viral bukan main. Membuat nama Pakdhe Didi terdongkrak lagi. Lalu, Ngobam bersama Gofar Hilman itu melahirkan keajaiban.

Saya menyebutnya sebagai second coming ketika menulis untuk Mojok. Kenapa lagu-lagu dengan lirik yang begitu sederhana bisa merasuk ke dalam hati secara paripurna? Betul, Lord Didi Kempot, Godfather of Broken Heart, memahami betul kalau tidak ada orang yang mau bersedih sendirian.

Lirik-liriknya begitu relate, dirasakan banyak orang. Bahkan, mereka dengan mental baja pun punya satu momen bersedih sendirian. Terkadang, kesedihan itu tidak bisa dicurahkan, tertahan. Antara karena orang seperti ini memang sulit membuka diri kepada sembarang orang dan kesulitan merangkai ceritanya menjadi sebuah kisah yang bisa didengarkan.

Ketika cerita sedih mereka diterjemahkan oleh lirik-lirik Didi Kempot, pertahanan air mata pun jebol. Itulah momen paling sakral bagi manusia: ketika ada orang yang bisa mendengarkan dan memahami kesusahan yang tengah menghimpit. Ada orang yang mau dan bisa mendengarkan, atau bahkan punya kisah yang sama. Betapa bahagianya ketika sambat didengarkan dan dipahami oleh teman terdekat.

Betul, pada awalnya adalah sambat. Fenomena sambat lebih dahulu meledak di lini masa Twitter. Bermula dari Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini, lalu lahir pula Nanti Kita Sambat Tentang Hari Ini. Bahkan sampai ada hari sambat nasional, ditandai dengan tagar #SelasaSambat. Orang ramai-ramai mengumbar kesedihannya di lini masa. Ketika di-reply oleh akun lain, bahagianya begitu terasa. “Ehh kok ada yang bisa memahami aku.”

Ketika fenomena sambat sudah seperti budaya yang dirayakan secara rutin, Didi Kempot seperti dilahirkan untuk kali kedua. Perlu kamu ketahui, lagu yang ditangisi bersama-sama itu sudah pernah meledak dekade yang lalu. Saking meresap ke dalam hati banyak orang, penyanyi kelahiran Surakarta 53 tahun yang lalu ini dibuatkan acara radio sendiri. Acara itu dinamai “Dikempongi”, kependekan dari Didi Kempot Wayah Wengi.

Mendapatkan momen untuk kali kedua, lagu-lagu beliau terpanggil dari masa lalu. Kebangkitan kedua ini, dilambari oleh fenomena sambat, membuat pengaruhnya sangat terasa. Meski dibawakan dengan bahasa Jawa, lagu-lagu Pakdhe Didi bisa diterima banyak orang. Pada dasarnya, kesedihan memang hanya punya satu bahasa, yaitu air mata.

Sebagai suporter Arsenal, selepas tahun 2005, kesedihan sudah jadi bagian mesra. Dimulai dari final Liga Champions di Paris, lalu final Piala Liga, dan kegagalan-kegagalan rutin di Liga Inggris. Kesedihan seperti keniscayaan, tinggal masalah waktu saja kapan akan terjadi (lagi).

Terkadang, mendukung Arsenal, adalah sebuah penerimaan akan kekecewaan yang berulang. Seperti cinta dan rasa kecewa yang selalu beriiringan. Arsenal dan kekecewaan adalah dua “insan” yang bergandengan tangan. Namun, sudah kadung cinta, meski hati ambyar, tetap saja diulangi lagi…dan lagi.

Agustus 2019 saya mendapatkan kesempatan bertatap muka dengan Didi Kempot di Solo. Di museum gula Colomadu, saya menemukan sosok yang sederhana, tetapi kehadirannya “terasa besar”. Pakdhe adalah sosok yang genuine, humble, sangat ramah, dan menikmati setiap obrolan.

Dari obrolan yang tidak berlangsung lama itu saya seperti bisa menemukan jejak-jejak kekuatan. Sebuah pemahaman bahwa kesedihan memang satu bagian dengan kemegahan perayaan juara. Kamu tidak akan bisa mengenal kebahagiaan jika tidak mengakui dan memahami kesedihan. Atas nama cinta, kita terlatih ambyar hati.

Rest in peace Pakdhe Didi Kempot. Dirimu hidup 1.000 tahun di hati kami masing-masing.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *