arsenal lukas podolski

Lukas Podolski, cinta yang awet seperti budaya once a gonner always a gonner

You just can’t hate Lukas Podolski. Selamanya, saya, kamu, kita semua, tidak akan bisa membenci Lukas Podolski. Dari senyumnya yang lebar sudah tergambar sebuah budaya yang kita amini bersama: once a gooner always a gooner.

Masing-masing dari kita punya alasan sendiri ketika mendedikasikan satu-satunya cinta sepak bola untuk Arsenal. Mungkin kamu mencintai Arsenal karena warisan orang tua, seperti biasanya kita mencintai klub lokal Indonesia. Mungkin ada juga yang terpesona oleh gemerlap zaman Arsene Wenger. Ada juga yang seperti “menemukan gambaran diri” dari klub ini.

Cinta datang begitu saja, bahkan untuk yang sifatnya selamanya. Prosesnya bisa terjadi begitu saja seperti jentikan jari. Namun, sekali tumbuh, cinta seperti itu akan bertahan selamanya. Setiap mantan pemain, yang berhasil menemukan dirinya di dalam Arsenal, mengilhami budaya yang sama: once a gooner always a gooner.

Meskipun mereka berjaya bersama klub lain, di dasar hati mereka, selalu ada mesbah persembahan untuk Arsenal. Lukas Podolski salah satunya. Kariernya bersama Arsenal terhitung pendek. Diawali musim 2012/2013 sampai 2015/2016. Masa bakti 4 tahun, diwarnai masa peminjaman ke Inter Milan.

Menengok catatan, Lukas Podolski bermain 82 kali untuk Arsenal. Dia mencetak 31 gol dan 17 asis. Selain catatan statistik, pemain asal Jerman tersebut juga berkontribusi atas Piala FA yang berhasil diraih Arsenal. Cukup lumayan bagi seorang pemain yang menit bermainnya sangat jarang penuh.

Kedatangan Alexis Sanchez mengikis menit bermain lebih jauh lagi. Sangat disayangkan memang, tetapi Alexis Sanchez langsung menjadi pemain terbaik Arsenal saat itu bersama Mesut Ozil dan Santi Cazorla. Podolski harus mengambil sikap. Kariernya tidak boleh mendeg ketika masuk usia emas. Dan pada akhirnya dia memutuskan untuk pergi.

Namun, meskipun harus menomorsatukan karier, di dalam hatinya, Arsenal punya posisi penting, berdampingan dengan FC Koln, klub yang membesarkan namanya.

“Saya masih jatuh cinta dengan fans Arsenal dan saya sendiri seorang Gunner. Saya menantikan sebuah waktu kelak untuk datang lagi mengunjungi Emirates Stadum untuk menyapa para fans. Hati saya akan selalu di sini, sama seperti di Koln, di mana kamu selalu bisa merasakan pengalaman indah. Di dalam hati saya, saya akan selalu Gunner,” kata Podolski setelah hengkang.

Ketika ngobrol dengan Ian Wright, Podolski kembali menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah melupakan Arsenal. Meskipun kini menikmati hidup di Turki bersama Galatasaray. “Once a gooner always a goones.”

Budaya yang sama juga ditegaskan oleh Thierry Henry dan Patrick Vieira. “Once a gooner always a goones” karena mereka menemukan dirinya di dalam Arsenal. Mereka, yang kariernya take off karena kehidupan di Arsenal.

Satu hal istimewa yang Podolski, Henry, dan Vieira tunjukkan adalah kesetiaan di dalam hati. Berganti klub adalah hal yang lumrah. Sebagai manusia, terutama sebagai pesepak bola, ambisi untuk mencicipi gelar juara tidak bisa kamu salahkan. Kesetiaan tidak selalu harus diartikan dengan wujud berkarier di satu klub sepanjang kariernya.

Kesetiaan adalah satu hal yang kamu bawa pergi jauh. Satu bekal yang menjadi identitasmu dan menjadi pengingat akan budaya yang kamu ilhami. Podolski menjadikan London dan Arsenal sebagai sebuah keluarga. Dan dia tidak pernah malu untuk selalu menegaskan, bahkan membela, sebuah panji yang begitu dia cintai.

Saya menemukan Arsenal, juga secara tidak sengaja. Sebagai seorang bocah yang lahir di tengah pemuja AC Milan, menjadi fans sebuah klub di luar Italia adalah sesuatu yang sulit dibayangkan. Namun saya menemukan Arsenal, seperti Lukas Podolski menemukan “rumah”, secara tidak sengaja.

Saya menemukan keindahan pada awalnya, lalu belajar makna kerja keras dari sejarah tak terkalahkan selama satu musim. Dari kerja keras, saya melihat bagaimana dedikasi itu mahal harganya. Ketika seorang Bergkamp, Henry, dan Vieira bermain sambil menahan rasa sakit di kaki. Mereka memaksa diri untuk membela “satu hal penting”.

Sebuah kesadaran yang dibangun dari sejarah kolektif. Entah ada kesuksesan atau kesedihan yang menemui di ujung jalan, mereka melewatinya bersama-sama. Sebuah kesadaran yang melahirkan satu ikatan. Sebuah ikatan yang kini menjadi sebuah budaya. Dan kita mengenalnya sebagai once a gooner always a gooner. Sepanjang hayat, seumur hidup.

Lukas Podolski, yang karirnya bisa dihitung dengan sebelah tangan, bisa menemukan arti kesetiaan bersama Arsenal. Kita, yang sudah mendukung klub ini puluhan tahun, harusnyatahu betul makna “menemukan keluarga”. Menemukan identitas diri, mengilhami sebuah budaya bernama: once a gooner always a gooner.

BACA JUGA Mikel Arteta dan Makna Menjadi Bagian dari Arsenal atau tulisan lainnya dari Yamadipati Seno.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *